Skip to main content

Masih menggunakan dan menyimpan termometer air raksa di rumah? Hati-hati, karena ada bahaya yang mengancam di balik kegunaannya, lho. Simak penjelasannya di sini!

Salah satu jenis termometer yang umum digunakan di kalangan rumah tangga adalah termometer air raksa. Selain harganya yang terjangkau, termometer air raksa juga sangat praktis, akurat dan mudah dalam penggunaannya. Hal inilah yang membuatnya populer dan menjadi andalan untuk mengukur suhu tubuh. Namun dibalik kemudahannya, termometer yang berbentuk tabung kaca ini memiliki bahaya yang mungkin masih belum disadari oleh kebanyakan orang.

termometer air raksa tradisional
Termometer air raksa, ada bahaya besar di balik kegunaannya

Tak hanya karena tabung kacanya yang mudah pecah dan dapat melukai penggunaannya, bahaya utama justru datang dari cairan berwarna perak di dalamnya yang merupakan air raksa. Air raksa atau senyawa merkuri dalam termometer air raksa sangat beracun dan berbahaya jika terhirup atau masuk ke dalam tubuh. Bahkan, beberapa negara sudah melarang peredaran dan penjualan termometer air raksa.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai air raksa dan bahayanya, mari simak penjelasannya di bawah ini!

Air Raksa Bersifat Racun

Kandungan air raksa atau merkuri bersifat racun. Ketika uap merkuri terhisap dalam jumlah yang tidak dapat ditoleransi oleh tubuh, maka dapat mengakibatkan masalah pada sistem saraf, ginjal, paru -paru, dan sistem imun tubuh. Terpapar senyawa merkuri secara berlebih dalam jangka waktu yang lama mampu menyebabkan masalah pada organ ginjal yang meliputi peningkatan protein dalam urine dan bahkan sampai gagal ginjal.

Pada wanita hamil, paparan merkuri dapat berdampak pada janin yang dapat mengganggu kinerja otak dan sistem saraf pada bayi yang dikandung. Anak-anak yang terkena senyawa merkuri dapat memiliki koordinasi yang buruk, gangguan pendengaran, dan intelegensi yang rendah. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengeluarkan surat edaran yang memuat tentang penghapusan merkuri, mulai dari pelarangan produksi merkuri, penggunaan merkuri hingga penggantian alat kesehatan mengandung merkuri di tahun 2020 lalu.

Tak Hanya Termometer, Waspada Bahaya Air Raksa dari Sumber Lain!

Selain di termometer air raksa, merkuri juga kerap digunakan di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) (bisa internal link ke artikel keyword pertambangan emas skala kecil). Para penambang emas tradisional ini memanfaatkan merkuri untuk menangkap emas. Alasannya, merkuri merupakan metode yang sederhana, cepat dan mudah. Padahal melakukan kontak langsung dengan merkuri dapat berdampak buruk yang menyebabkan berbagai penyakit berbahaya bahkan bisa mengancam jiwa. Untungnya, saat ini sudah ada program pemerintah untuk pengurangan dan penghapusan merkuri dari sektor PESK tersebut yang merugikan banyak pihak.

Presiden Joko Widodo telah membuat Rancangan Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN-PPM) dari 4 sektor: manufaktur, energi, Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), dan kesehatan. Sektor kesehatan ditargetkan untuk 100% bebas merkuri di tahun 2020, sementara itu PESK ditargetkan untuk bebas merkuri di 2025.

Penggunaan Air Raksa di Sektor PESK

Mayoritas PESK menambang dengan menggunakan merkuri atau air raksa. Kontaminasi merkuri dapat mengakibatkan penyakit gangguan saraf tak hanya penambang, tetapi juga anak-anak dan warga di sekitar wilayah tambang. Keracunan merkuri bersifat akumulatif, artinya akan muncul bertahun-tahun kemudian. Anak yang dilahirkan dari ibu yang terkontaminasi merkuri berpotensi mengalami kelainan saraf dan cacat anggota badan.

Penambangan emas menggunakan merkuri juga dapat membawa dampak yang sangat buruk pada berbagai sektor. Penyebabnya, limbah merkuri tidak hanya dapat mencemari air, tetapi juga bahan pangan, binatang ternak hingga udara yang membahayakan Kesehatan.

Baca juga : Roadmap Penanggulangan Merkuri di 6 Lokasi Proyek GOLD-ISMIA

Seorang penambang menuangkan air kedalam gelondong tromol
Penambang menuangkan campuran air kedalam gelondong atau tromol. Merkuri dituangkan pada tromol untuk memisahkan pasir emas dari lumpur. Sayangnya, untuk menghasilkan emas 1 gram, dibutuhkan setidaknya 5 gram merkuri.

GOLD-ISMIA, Solusi PESK Bebas Merkuri

Salah satu cara untuk menghindari kontaminasi atau keracunan akibat merkuri adalah dengan membantu PESK untuk bisa beralih ke Teknologi Bebas Merkuri. Tak hanya lebih aman bagi kesehatan, penambangan emas dengan teknologi bebas merkuri juga bisa menghasilkan emas yang lebih banyak. Untuk itulah proyek GOLD-ISMIA hadir. GOLD-ISMIA mencoba menawarkan solusi pertambangan emas skala kecil bebas merkuri agar lingkungan dan generasi selanjutnya terbebas dari keracunan merkuri.

Yuk, dukung dan wujudkan program 100% Bebas Merkuri di Sektor PESK!

GOLD-ISMIA adalah program penghapusan merkuri dari sektor pertambangan emas skala kecil (PESK) di Indonesia. Proyek berlangsung di 6 kabupaten di Indonesia, yaitu: Kulonprogo, Kuantan Singgigi, Pulau Obi, Minahasa Utara, Gorontalo Utara, Halmahera Selatan, dan Lombok Barat. Proyek ini merupakan bagian dari Planet GOLD, yang dilaksanakan serentak di delapan negara lainnya di dunia. GOLD-ISMIA atau Planet Gold Indonesia didanai oleh Global Environment Forum (GEF) dan dilaksanakan atas kerjasamaKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) , Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan United Nations Development Programme (UNDP).

Ikuti cerita seputar perkembangan PESK menuju emas bebas merkuri di Instagram, Twitter, Youtube, dan Facebook GOLD-ISMIA.

Kategori Berita