Skip to main content

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin sering mendengar kata merkuri dalam kesehariannya. Misalnya saja bahaya merkuri bagi kulit yang terkandung pada kosmetik. Padahal merkuri juga memiliki ancaman bahaya yang lebih besar, seperti bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Ancaman pencemaran lingkungan oleh merkuri ini sering tidak disadari oleh masyarakat yang awam. Hal ini disebabkan karena masyarakat menganggap bahwa pencemaran merkuri tersebut hanya akan terjadi pada lingkungan di sekitar lokasi penggunaan merkuri seperti Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). Namun, masyarakat perlu menyadari bahwa ancaman bahaya merkuri ini sesungguhnya bisa mengancam siapa saja, bahkan yang jauh dari lingkungan pertambangan emas.

Seperti apa sih pencemaran dan bahaya merkuri bagi lingkungan? Cek fakta berikut ini!

Pencemaran Merkuri pada Lingkungan Perairan, Tanah dan Udara

Merkuri merupakan logam berat yang amat berbahaya dan beracun, oleh karena itu sangat merugikan jika mencemari lingkungan perairan. Pencemaran merkuri di perairan umumnya berasal dari kegiatan industri atau pertambangan. Pertambangan secara tradisional seringkali menggunakan cairan perak merkuri atau air raksa untuk memisahkan butiran emas dari material batuan. Setelah butiran emas terkumpul, maka sisa batuan atau lumpur yang tercampur dengan merkuri lantas dibuang ke aliran sungai. Inilah awal pencemaran merkuri hingga menuju ke lautan. Tak hanya pertambangan rakyat, limbah sisa hasil industri yang dibuang secara tidak bertanggung jawab pun turut andil dalam pencemaran lingkungan. Lalu, apa dampak pencemaran dan bahaya merkuri bagi lingkungan perairan?

Merkuri di Lingkungan Perairan

Peristiwa pada 1950-an di Teluk Minamata, Prefektur Kumamoto, Jepang telah menjadi peringatan tentang bahaya pencemaran merkuri pada lingkungan perairan. Tragedi Minamata telah menelan banyak korban yang menderita penyakit sindrom neurologis dan kelumpuhan saraf sensorik. Penduduk Minamata mengalami sakit hingga meninggal setelah mengkonsumsi ikan dan makanan laut yang tercemar limbah merkuri industri batu baterai Chisso Corporation sejak 1932. Merkuri yang mencemari laut akan diserap oleh plankton, kemudian plankton dimakan oleh ikan dan terakumulasi dalam tubuh ikan atau biota perairan lainnya. Semakin besar tubuh seekor ikan, maka semakin tinggi pula tingkat merkuri yang dikandungnya. Nah, hal penting yang patut diperhatikan masyarakat adalah, cakupan wilayah yang luas untuk distribusi ikan atau makanan laut yang dikonsumsi. Bisa jadi masyarakat mendapatkan makanan tersebut dari hasil tangkapan di lokasi lain. Jadi meski pemukimannya jauh dari perairan yang tercemar merkuri, paparan dari pencemaran merkuri dapat terjadi.

Merkuri pada Tanah di Sekitar Lokasi PESK

Selain dapat mencemari perairan, merkuri juga dapat mencemari tanah. Proses pencemarannya pada tanah umumnya juga bersumber dari pertambangan dan limbah industri. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2017, sebagian besar kegiatan PESK dilaksanakan secara informal dan di lokasi seperti di tengah pemukiman penduduk atau kawasan konservasi serta hutan lindung. Pada kegiatan penambangan tradisional di tempat-tempat tersebut, penggalian bijih emas pada bebatuan juga biasanya menggunakan merkuri dalam proses pemisahan emasnya. Sisa-sisa penggalian serta bebatuan yang telah tercampur merkuri akan mencemari tanah dan tanaman. Jika tanaman tersebut dikonsumsi maka kandungan merkuri juga akan mengendap dalam tubuh manusia.

Infografis pelepasan merkuri ke alam
Dalam proses pertambangan emas skala kecil yang masih menggunakan PESK, emisi merkuri mengkontaminasi air, tanah, dan udara sekaligus.

Merkuri yang Terlepas di Udara

Lalu, apakah merkuri bisa mencemari udara? Jawabannya adalah “bisa”. Tahap pemurnian emas dari merkuri dilakukan dengan dibakar. Tujuannya agar sisa-sisa merkuri pada butiran emas yang terkumpul akan hilang menguap. Jika pembakaran ini tidak dilakukan dalam keadaan tertutup, maka uap merkuri akan bercampur di udara. Angin dapat membawa uap merkuri ini ke tempat yang lebih jauh, lalu terhirup oleh manusia, burung, dan makhluk hidup lainnya. Udara yang mengandung merkuri bisa juga menempel pada kulit manusia, terakumulasi dan menunjukkan efek buruknya bagi kesehatan dalam jangka waktu 5-10 tahun kemudian.

Jadi, sudah tahu kan, bagaimana proses pencemaran dan bahaya merkuri bagi lingkungan di muka bumi?

Upaya yang Dilaksanakan Pemerintah Indonesia

Di tahun 2017, pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Minamata dan secara resmi menyerahkannya kepada PBB. Langkah ratifikasi Konvensi Minamata ini merupakan pemenuhan mandat konstitusi untuk melindungi masyarakat Indonesia dari ancaman pencemaran merkuri yang membahayakan kesehatan dan ekosistem lingkungan. Melihat langkah cepat dan tegas dari pemerintah Indonesia tersebut, tentunya menunjukkan bahwa pencemaran serta bahaya dari logam berat merkuri ini memang perlu penanganan yang cukup serius.

Foto panelis KLHK Environmental policy dialog

Dialog Kebijakan Lingkungan Hidup Indonesia – Jepang yang ketiga, dilaksanakan secara virtual pada 13 Januari 2021, di tengah status darurat COVID-19 di kedua negara tersebut. Dialog Kebijakan ini juga menandai dimulainya Pekan Lingkungan Hidup Indonesia – Jepang 2021 (IJEW 2021) secara resmi. Dialog Kebijakan dan IJEW 2021, diselenggarakan secara daring oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang (MoEJ).

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan agar lebih menyadari dampak negatif merkuri serta mendukung berbagai program pemerintah maupun swasta dalam upaya mengurangi dampak dan bahaya merkuri bagi lingkungan. KLHK bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan didukung oleh UNDP bekerja sama dalam proyek GOLD-ISMIA.

Proyek ini berupaya memberikan penyadartahuan bahaya merkuri akibat kegiatan PESK kepada para penambang dan masyarakat umum. Selain itu, proyek ini juga tengah mengembangkan teknologi #BebasMerkuri, bekerja sama dengan BPPT, yang mampu mengurangi atau menghapuskan merkuri dari kegiatan PESK. Dengan demikian, dukungan bagi proyek GOLD-ISMIA merupakan upaya untuk mencegah kerusakan lingkungan, menyejahterakan kehidupan para penambang yang menggantungkan hidup pada PESK, serta memberikan tempat tinggal yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Penambang emas melakukan simulasi  cara menggunaan tangki leaching pada pelatihan teknologi bebas merkuri
Penambang emas melakukan simulasi penggunaan tangki leaching. Pelatihan teknis dan pendampingan pembuatan teknologi bebas merkuri merupakan salah satu upaya GOLD-ISMIA yang dilakukan di 6 desa di Indonesia.

Kategori Berita